(FWA) “Acara Pencocokan Bisnis Taiwan 2026” resmi dimulai pada tanggal 22 April, di mana agensi perekrutan Taiwan mengadakan diskusi mendalam dengan lebih dari 30 Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang berkualitas. Federasi Asosiasi Layanan Ketenagakerjaan Nasional Taiwan mengajukan permohonan penting kepada pihak Indonesia, berharap untuk melonggarkan batasan jumlah agen perdagangan timbal balik saat ini dari 3 agen menjadi 5 agen atau lebih, sekaligus meningkatkan kuota pekerja migran di berbagai sektor, guna meningkatkan efisiensi pencocokan dan memastikan pemberi kerja di Taiwan dapat memperoleh dukungan tenaga kerja yang stabil dan berkualitas.
Ketua Federasi, Teng Hsiang-an, menyatakan bahwa Taiwan baru-baru ini melonggarkan kebijakan mengenai perawat dan asisten rumah tangga asing, sehingga permintaan pasar terhadap tenaga kerja Indonesia melonjak drastis. Namun, di bawah peraturan saat ini, setiap agensi Taiwan hanya dapat menjalin kemitraan perdagangan dengan 3 lembaga agensi Indonesia. Beberapa industri manufaktur dan konstruksi memiliki permintaan tenaga kerja yang sangat besar. Batasan jumlah mitra kerja sama saat ini dinilai sangat tidak memadai, yang dikhawatirkan dapat memengaruhi efektivitas penempatan pekerja migran Indonesia ke Taiwan. Ia berharap pihak Indonesia dapat bersama-sama meninjau kembali batasan tersebut untuk meningkatkan fleksibilitas sistem dan efisiensi pencocokan, guna merespons kebutuhan pasar.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Mukhtarudin, dalam pidato videonya menekankan bahwa acara ini merupakan titik awal yang penting untuk membangun ekosistem pengiriman pekerja migran yang aman. Pihak Indonesia ke depannya akan berfokus pada pembinaan talenta yang memiliki sertifikasi profesional dan dilindungi oleh hukum.
Ketua Umum APJATI, Said Saleh Alwaini, juga menunjukkan bahwa Indonesia telah siap menyediakan tenaga kerja berkualitas tinggi yang “profesional dan bersertifikat.” Kedua belah pihak akan memperluas bidang kerja sama ke empat sektor baru yang sedang berkembang, yaitu semikonduktor, teknologi informasi (TI), pariwisata dan perhotelan, serta perawatan kesehatan dan medis. Targetnya adalah mendorong 500.000 tenaga profesional Indonesia untuk bekerja di luar negeri antara tahun 2026 dan 2029.





